Kamis, 11 Juli 2013

KAMI MEMANGILNYA IMAM

ŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR
x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ
Artinya: ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Q.S. Al Baqarah : 30

Entah sejak kapan setiap pemimpi –ketua umum- di HMI dilingkup cabang Yogyakarta dipanggil dengan sebutan imam. Tak menutup juga terjadi di HMI Komisariat FTI UII. Terus terang, saya belum bisa menemukan secara pasti kapan tradisi ini ada dan siapa yang memulainya serta apa maksud sebenarnya. Saat ini yang saya peroleh hanyalah warisan kebiasaan yang telah ada secara empiris diturunkan ke generasi selanjutnya. Sebagai generasi yang cukup jauh dari peletakan batu pertama penulisan sejarah ini, saya menganggap penting untuk mengetahui sebab-musabab kebiasaan ini muncul sehingga kita tidak akan menjadi generasi latah dan menganggapnya sebatas sapaan ringan. Karena disadari atau tidak, kita tidak mampu memaknainya secara baik, dan hanya dimaknai sebatas formalitas struktural organisasi.
Padahal makna imam itu sendiri sangatlah luas. Jika ditinjau secara terminolog Islam pemimpin biasanya disebut “imam” sedangkan hal yang menyangkut kepemerintahan disebut “imamah”. Urgensi seorang imam disebutkan dalam Alqur’an: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (Q.S. An Nisaa [4]: 59)
Ada yang salah seorang kanda dala sebuah forum rapat anggota mengatakan bahwa kita menyebut pemimpin kita dengan isilah Imam merunut pada teknis sholat berjamaah. Dalam sholat berjamaah, imam berarti orang yang di depan. Jika ditinjau secara harfiyah, imam berasal dari kata amma, ya’ummu yang artinya menuju, menumpu dan meneladani. Ini berarti seorang imam atau pemimpin harus selalu di depan guna memberi keteladanan atau kepeloporan dalam segala bentuk kebaikan.

Dari sedikit penjelasan diatas, dapat kita lihat betapa besar makna kita menyebut pemimpin kita sebagai imam. Sebagai kader kita menggantungkan tujuan kita kepada imam yang mengendarai “kendaraan besar” HMI. Konsekuensi logis dari hal tersebut adalah kita akan berlaku sami’na wa atha’na terhadap imam kita meski kadang segala arahan yang diberikan sangat bertentangan dengan ego kita. Sebagaimana dalam sholat berjamaah, ketika imam kita rukuk maka kita –kader- sebagai makmum wajib untuk rukuk juga. Namun, bukan berarti apa yang diucapkan atau yang diperintahkan oleh imam selalu dibenarkan secara mutlak meski itu salah. Kita juga berkewajiban untuk mengingatkan imam kita bahwa tindakannya itu salah namun dilakukan dengan cara santun. Karena sejatinya kepatuhan kita terhadap imam merupakan manifestasi kepercaan kita memilihnya sebagai pemimpin.